Milenial Nusantara di Berbagai Jalan

Generasi yang lahir berdampingan dengan pesatnya revolusi teknologi, generasi yang kecanduan dengan kecepatan info, dan generasi yang berani memberontak kepada adat istiadat.

Generasi milenial memang tak lagi mempersoalkan teritori. Dunia dan media sosial menolong generasi ini mempelajari tradisi dunia, meruntuhkan batas negara, dan merombak sistem orang-orang lama berdaya upaya perihal konsep berbangsa. Survei Alvara Research Center, menceritakan generasi milenial menganggap politik yakni milik generasi yang lebih tua, mereka acuh kepada pelbagai pelaksanaan politik.

Masih dalam survei yang sama, generasi milenial lebih berminat pada berita-berita berhubungan info dan teknologi, musik atau film dan olahraga. Mencari sudut pandang orang ke-3, menanyakan ihwal ini terhadap para pengajar generasi milenial. Mereka yakni orang-orang yang dekat dan melihat keseharian generasi ini. Benarkah generasi milenial tak lagi berdaya upaya perihal nasionalisme? Dan, apa tantangan generasi ini dalam kehidupan berbangsa ke depan?

1. Paul Ritter

“Kecil-buah hati milenial dikala ini sedang berada di “persimpangan jalan”. Derasnya arus info dan tradisi global bisa membikin ‘keindonesiaan’ menjadi melarikan diri atau pun sirna,” kata Paul. Membombardirnya tradisi dan info global lewat musik, film, makanan dan popularitas tanpa sadar membikin identitas keindonesiaan menjadi tersapu.

“Tapi di sisi lain, aku justru menemukan bahwa generasi milenial Indonesia malahan benar-benar menyadari bahwa mereka yakni komponen dari bangsa ini, dan benar-benar berbangga menjadi menjadi bangsa Indonesia,” ujar Paul. Tantangan ke depan generasi ini menurutnya yakni bagaimana membikin “Indonesia” bukan menjadi sesuatu yang cuma dapat dijumpai di museum.

Bagaimana menerjemahkan ideologi Pancasila dalam keseharian mereka. “Bagaimana melewati komen-komen mereka di Facebook, like mereka di Instagram atau video-video yang mereka buat di Youtube, dapat membuktikan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia,” ujar Paul.

2. Spot Sudarti, Kepala Sekolah 

“Berdasarkan aku generasi milenial kita masih punya rasa nasionalisme,” kata Spot. Cuma, kadarnya masing-masing berbeda cocok dengan bagaimana penanaman permulaan “rasa nasionalisme” itu dalam keluarga, tambahnya. Spot memperhatikan keluarga masih ialah daerah pengajaran pertama dan utama untuk menanamkan skor nasionalisme itu. “Kami di sekolah bertugas memperkuat dan mengoptimalkan rasa nasionalisme sehingga buah hati menjadi bangsa Indonesia berwawasan global, berprestasi di tingkatan internasional, tetapi konsisten berbangga dengan Indonesia,” lanjutnya.