Kompetisi Tidak Sehat Besi Baja Impor

Industri besi siku internasional dalam negeri tak jarang keok berkompetisi dengan produk impor. Ini ditengarai pengaruh adanya kecurangan, di mana harga barang impor lebih murah.

Ketua The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengatakan, mutu baja lokal dan impor tak berbeda. Ini sebab telah ada standar yang sudah ditentukan.

Tapi umumnya besi baja impor dapat memberikan harga jauh lebih rendah. Kecurangan berlokasi di sini, adalah dengan mengurangi mutu besi baja.

“Tak beda sebab gunakan standar harga baja dunia. Hanya yang jahil itu bermain di bea dan rebate. Dapat murah 20-30 persen tetapi caranya curang,” kata ia di Kantor SKK Migas, Jakarta.

Silmy mengucapkan, biasanya harga besi beton baja yang melaksanakan kecurangan memberikan HS Code yang tak layak. Produk ini bahkan bebas bea. Pengimpor kemudian memasarkan besi bajanya jauh lebih murah dari harga pesaing.

“Di sana (produk impor) mengakalin, pura puranya baja stainless. Walaupun itu cuma kelabui untuk tak kena bea, ini baja secara awam bukan untuk industri hulu saja. Ini telah melanggar hukum sebab mereka itu di depan mata kita melaksanakan pengelabuan importase dengan kelabui dengan HS number,” papar ia.

Silmy cemas, kalau pemerintah tak langsung turun tangan menyelesaikan permasalahan hal yang demikian, karenanya industri besi baja dalam negeri akan keok berkompetisi. Situasi ini kemudian berujung pada kematian industri besi baja dalam negeri.

“Ini kan tak fair, industri baja tahun depan jika tak ada langkah konkrit itu akan banyak yang tumbang. Di hilir baja dikala ini banyak sekali yang telah tak produksi sebab impor masuk secara deras,” tandas ia.

Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) alhasil mendapatkan kepastian pasokan besi baja dari pengusaha dalam negeri. Kecuali itu, sektor hulu migas juga mendapatkan mutu baja layak standar dan harga yang wajar. Kepastian hal yang demikian berakhir ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Aktivitas Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA).

Terobosan yang dijalankan SKK Migas untuk mendapatkan besi dan baja dengan mutu bagus dan harga lebih murah, SKK Migas sudah menjalin kerjsama dengan IISIA. Sebagian nilai penting dalam nota kesepahaman hal yang demikian yakni mekanisme penetapan harga wajar produksi dalam negeri serta adanya technical assistance dari IISIA terhadap SKK Migas.